Tercatat, 60 Balita di Kota Malang Positif Terjangkit HIV AIDS

Audiensi antara Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko (kenakan kopiah) dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Malang, Rabu (6/2/2019) (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).
Audiensi antara Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko (kenakan kopiah) dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Malang, Rabu (6/2/2019) (Humas Pemkot Malang for MalangTIMES).

SIDOARJOTIMES, MALANG – Kota Malang tercatat sebagai kota kedua di Jawa Timur yang terjangkit  kasus HIV AIDS. Sejak 2005 hingga 2019, terdata sudah ada sekitar 4.300 kasus yang terjadi.

Faktor penyebabnya bukan lagi pada penggunaan jarum suntik melainkan hubungan heterogen dan lelaki seks lelaki (LSL atau hubungan sesama jenis) menjadi faktor yang paling dominan.

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Bayu Tjahjawibawa menjelaskan, sejak 2018 hingga 2019 tercatat ada sekitar 4.300 kasus positif HIV AIDS.

Sedangkan pada 2018 ada 508 kasus, dan sepanjang 2005 hingga sekarang ada 60 anak-anak usia balita yang teridentifikasi terinfeksi HIV AIDS. Namun seluruhnya bukan warga Kota Malang. Mereka berasal dari beberapa daerah di Indonesia.

"Karena yang periksa ke sini bukan hanya dari Kota Malang, tapi hampir semua warga di Indonesia. Kebanyakan periksanya di rumah sakit provinsi yang ada di Kota Malang. Warga Kota Malang ada sekitar 50 persen dari total yang terdata," katanya pada wartawan usai melakukan audiensi dengan Wakil Wali Kota Malang bersama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Malang, Rabu (6/2/2019).

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak dini terus digenjot. Di antaranya melalui berbagai aktivitas sosialisasi kepada masyarakat. Terutama kepada ibu hamil, yang memang diwajibkan memeriksakan diri.

Di antaranya memeriksakan hepatitis, sipilis, dan HIV. Ketika ibu mengandung alami HIV AIDS, maka akan disarankan melakukan berbagai upaya pengobatan. Karena HIV AIDS hampir sama dengan jenis penyakit lainnya.

"Pasangannya juga akan kami periksa ketika ibu hamil yang bersangkutan positif HIV AIDS. Selanjutnya akan diobati. Karena HIV ini kan sama saja seperti sakit kencing manis," terangnya lagi.

Lebih jauh dia menyampaikan, pemeriksaan terhadap ibu hamil sangat penting untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Ketika ibu hamil positif terjangkit, maka sang calon bayi kemungkinan besar atau 90 persen turut terjangkit.

Namun, apabila ditangani secara khusus, maka kemungkinan itu sangat bisa ditekan. Calon bayi dari ibu yang terjangkit HIV AIDS dapat non HIV AIDS atau negatif saat dilahirkan. Sehingga ibu hamil selalu didorong untuk memeriksakan diri.

"Karena orang yang terjangkit HIV itu pada dasarnya tidak kelihatan, dia sehat secara fisik saat dilihat dari luar. Maka dari itu perlu untuk memeriksakan diri," jelasnya.

Dia juga menegaskan jika HIV AIDS hanya dapat menular melalui hubungan badan, jarum suntik, dan transfusi darah. Sementara kontak sosial seperti makan bersama dan berenang bersama tidak akan membuat penyakit tersebut menular.

"Jadi jangan takut sosialisasi dengan yang sakit HIV AIDS," urainya.

Sementara itu, Koordinator KPA Kota Malang, Iwan Subagyo menambahkan, audiensi yang dilakukan dengan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko tersebut adalah untuk memaparkan sederet program yang akan dijalankan dalam menekan angka HIV AIDS di Kota Malang.

"Intinya kami menyampaikan sejumlah program untuk dijalankan bersama dengan Pemerintah Kota Malang melalui Pak Wakil Wali Kota Malang," jelasnya. 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top