30 Persen Kredit Perbankan di Malang Mengalir ke UMKM, Nilainya Capai Rp 15,49 Triliun

Kepala KPWBI Malang Azka Subhan saat menyampaikan paparan di hadapan awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Kepala KPWBI Malang Azka Subhan saat menyampaikan paparan di hadapan awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

SIDOARJOTIMES, MALANG – Nilai kredit yang disalurkan perbankan untuk sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Malang terus meningkat. Pada Januari 2019, nominal kredit UMKM mencapai Rp 15,49 triliun atau sebesar 30,44 persen dari total kredit yang mengalir di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang. 

Kepala KPwBI Malang Azka Subhan Aminurridho mengungkapkan, bahwa performa kredit bagi UMKM di wilayah kerja BI Malang sudah sangat baik. "Portofolio kredit UMKM 30,44 persen mengindikasikan perbankan di Malang sudah sangat baik dalam pemberian kredit bagi UMKM. Mengingat, pada 2018 harus tercapai minimal 20 persen," ujar Azka.

Artinya, pencapaian penyaluran kredit UMKM di wilayah tersebut sudah melampaui target nasional. Jika dirinci, jumlah kredit UMKM di wilayah kerja BI Malang terbagi untuk usaha mikro Rp 2,67 triliun, kecil Rp 5,29 triliun, serta menengah Rp 7,54 triliun.

Nilai kredit yang disalurkan, meningkat dibandingkan periode Desember 2018. Untuk UMKM, perbankan di wilayah kerja BI Malang menggelontorkan kredit Rp 15,01 triliun. Rinciannya, untuk usaha mikro Rp 2,63 triliun, kecil Rp 5,08 triliun, serta menengah Rp 7,34 triliun. Nominal itu mencakup 31,47 persen dari total kredit yang disalurkan. 

Wilayah kerja BI Malang sendiri meliputi Malang Raya yang terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang serta Kota Batu. Ditambah lagi Kota dan Kabupaten Probolinggo serta Kota dan Kabupaten Pasuruan. "Ada kepercayaan dan iklim usaha yang baik di wilayah ini. Dilihat juga dari jenis usaha yang mendapat penyaluran kredit itu sangat beragam," tambahnya. 

Sebelumnya, BI Malang menggelar penelitian komoditas/produk/jenis usaha (KPJU) unggulan di masing-masing daerah. BI sudah lama mengembangkan penelitian Baseline Economic Survei (BLS) untuk mengidentifikasi berbagai peluang investasi di daerah. "Kalau potensi ini terpetakan, maka bisa dijadikan dasar kebijakan. Muaranya nanti tentu ke pertumbuhan ekonomi daerah," terangnya. 

Berdasarkan hasil penelitian itu, komoditas unggulan untuk Kota Malang paling potensial adalah tempe. Disusul dengan makanan ringan, toko HP dan aksesori, keripik buah, kue kering, toko elektronik, toko pakaian, pembuatan raket, warung ikan bakar, serta kafe dan restoran. 

Sementara untuk Kota Batu, di urutan pertama ada komoditas apel. Diikuti dengan aneka keripik dan kerupuk, sari apel, wisata alam, kentang, wisata agro, warung makan campur, hotel melati, wortel dan sari stroberi. Sedangkan di Kabupaten Malang, komoditas unggulannya adalah padi sawah. Selain itu juga aneka keripik, ikan tuna, udang, kopi bubuk, tahu, tebu, kue kering, kerupuk, dan toko kelontong.  

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top