Obati TB Resisten Obat, Dinkes Libatkan TNI-Polri

Kasi P2M Dinkes Tulungagung,  Didil Eka (foto : Joko Pramono/jatim times)
Kasi P2M Dinkes Tulungagung, Didil Eka (foto : Joko Pramono/jatim times)

SIDOARJOTIMES, TULUNGAGUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung akan melibatkan koramil (TNI) dan polsek (polisi) untuk pengobatan tuberkulosis (TB).

TNI-Polri dilibatkan untuk pengobatan TB resisten obat. Hal itu sebagai usaha terakhir  lantaran sulitnya mendekati pasien TB resisten obat.

"Ini upaya terakhir supaya pengidap TB ini mau berobat. Ada semacam upaya ekstra yang harus dilakukan," Ujar Kasi P2M Dinkes Didik Eka.

Pihaknya menemukan 5 pasien tuberkulosis (TB) resisten obat. Mereka terdiri dari dua orang penjaga toko, seorang sopir travel, pekerja bengkel, dan seorang guru.

Sayang, guru dan sopir travel menolak untuk dilakukan pengobatan. Butuh pendekatan ekstra agar mereka mau berobat.

"Justru yang pendidikannya tinggi biasanya penolakannya semakin kuat. Sebab, mereka malu. Stigma secara umum, TB ini penyakit yang menjijikkan," terang Didik.

Parahnya lagi,  guru wanita yang terkena TB ini masih berstatus sebagai guru aktif dan mengajar. Jadi, para siswa dalam keadaan rentan tertular penyakit ini.

Guru perempuan yang terkena TB resisten obat ini sangat sulit didekati. Apalagi suaminya juga mendukung sikapnya yang menolak pengobatan.

Dinkes bahkan sudah minta tolong ke perangkat desa tempat tinggalnya, namun juga tidak membuahkan hasil. "Pengobatan ini sangat penting untuk memutus mata rantai penyakit ini. Kalau tidak lekas diobati, dia akan menularkan TB resisten obat juga ke orang lain," tambah Didik.

Jumlah pasien TB resisten obat yang mempunyai KTP Tulungagung sebanyak 32 orang. Dari jumlah itu, delapan orang berhasil disembuhkan setelah berobat. Sembilan orang lainnya meninggal dunia, dan sisanya masih proses pengobatan.

Untuk TB resisten obat, lama pengobatan antara 20 hingga 24 bulan. Berbeda dengan TB biasa (bukan resisten obat) yang butuh enam bulan pengobatan.

Lamanya pengobatan inilah yang kerap membuat pasien TB resisten obat putus asa. "Memang obatnya agak banyak dan harus diminum setiap hari sampai sembuh. Tidak boleh putus," ucap  Didik.

Insiden rate (IR) TB yang ditetapkan di Tulungagung tahun 2019 sebanyak 2.419 pasien. Hingga Tri Wulan pertama 2019, jumlah pasien yang sudah ditemukan sebanyak 345 pasien. Sementara tahun 2018 Dinkes menemukan 1.216 pasien, dari 2.984 angka IR yang ditentukan.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top