KH. Mahfudz Shidiq, Ketua HBNO (PBNU) Termuda Kesayangan KH Hasyim Asyari

KH. Mahfudz Shidiq semasa hidup.(Foto : Ist)
KH. Mahfudz Shidiq semasa hidup.(Foto : Ist)

SIDOARJOTIMES, BLITAR – Beliau adalah KH Mahfudz Shidiq, putra dari KH Muhammad Shidiq, Talangsari, Jember atau kakak dari KH Ahmad Shidiq (Roim Aam PBNU 1984-1991) dan paman dari KH Hamid Pasuruan.

KH Mahfudz Shidiq kecil menimba ilmu langsung kepada ayahnya KH Muhammad Shiddiq kemudian melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, di bawah asuhan KH Hasyim Asy’ari. 

Setelah dari Tebuireng beliau pun hijrah mencari ilmu di Makkah al-Mukarramah dan berteman baik dengan KH. A. Wahab Hasbullah, KH R  As’ad Syamsul Arifin, dan KH Bisri Syamsuri. 

Di sana beliau terkenal sebagai santri yang ahli debat, matang dalam ilmu mantiq dan handal berorasi di depan umum.

Beliau adalah tokoh organisatoris dan modernis NU yang diminta langsung oleh Hadrotus Syech Hasyim Asyari menjadi Ketua Tanfidziyah HBNO (sekarang PBNU) di usia yang masih 30 tahun.

Sungguh usia yang masih muda mungkin saat ini disebut sebagai pemimpin milenial. 

Beliau pertama kali terpilih menjadi Ketua Tanfidziyah pada Kongres/Muktamar ke-12 di Malang dan muktamar-muktamar selanjutnya.

Namun berkali-kali beliau menolak dengan alasan masih banyak kiai-kiai yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan tentang NU.

Namun sikapnya selalu luluh dan beliau berkali-kali tak bisa menolaknya karena yang meminta langsung adalah KH Hasyim Asyari. 

Bahkan KH Hasyim Asyari memintanya langsung kepada ayahnya, KH Muhammad Shidiq yang juga senior Kyai Hasyim ketika belajar ilmu di Syaichona Cholil Bangkalan agar KH Mahfud Shidiq bersedia mendampinginya berduet memimpin HBNO (PBNU).

Beliau adalah santri setia KH Hasyim Asyari yang selalu menemani dan mendampingi bahkan ketika dipenjara oleh penjajah. 

Sebagai tokoh NU, KH Mahfudz Shidiq dikenal sebagai kiai yang modernis, organisatoris dan ahli manajemen. 

Bahkan KH Wahid Hasyim menyebutnya sebagai problem solver ulung yang dimiliki NU.

Berpenampilan sangat rapi, klimis dan berdasi serta menguasai 5 bahasa mulai bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Arab dan Mandarin. 

Bahkan kakek Gus Mus, KH Cholil Kasingan (dikenal sebagai Sibawehnya Indonesia) sangat hormat kepada kakak dari KH Ahmad Shidiq ini.

Menurut cerita Gus Mus, kakeknya ini pernah disowani oleh KH Mahfudz Shidiq karena KH Kholil Kasingan diberitakan tidak setuju berdirinya NU di daerahnya. 

Terjadilah perbincangan serius beberapa jam antara KH Mahfudz Shidiq dan KH Kholil Kasingan, entah apa yang dibicarakan namun KH Kholil Kasingan langsung berubah sikapnya bahkan meminta khutbah iftitahnya kepada KH Mahfudz Shidiq. 

Setelah pertemuan tersebut, kakek Gus Mus dawuh kepada santrinya "Kalau ada pengajiannya Gus Fud (KH Mahfudz Shidiq) saya kasih tahu, karena saya juga akan ikut pengajiannya". 

Bahkan setelah perbincangan itu juga KH Cholil Kasingan menjadi garda terdepan dalam pendirian NU di Jawa Tengah.

KH Mahfudz Shidiq adalah tokoh peletak dasar pondasi keorganisasian NU mulai administrasi, manajemen dan konsolidasi organisasi. 

Bahkan di era saat itu untuk menjadi anggota NU dan mendapatkan kartu anggota NU harus lulus ujian selama 3 bulan. 

Ujiannya adalah terkait tentang keaktifan dalam melayat ketika ada tetangga yang meninggal, tahlil dan muamalah lainnnya. 

NU setempat yang  memonitor keaktifan warga yang mengajukan kartu anggota NU. 

Di sektor dunia jurnalis, beliau adalah pimpinan Berita Nahdatoel Oelama, dibawah kepemimpinannya kepenulisan NU sangat maju.

Bahkan Buya Hamka pernah menulis surat guna menyampaikan apresiasi dan kekagumannya atas tulisan (buku) beliau tentang ijtihad dan taqlid untuk rekonsiliasi. 

Beliau juga merupakan pengusul agar dibentuk bagian pemuda dengan nama ANO (Anshor Nahdlatoel Oelama). 

Belum lagi di sektor perdagangan, pedagang-pedagang NU terorganisir dengan baik.

Di level internasional tepatnya di tahun 1938, ketika Masjidil Aqsa digempur oleh Israel, PBNU yang dipimpin oleh KH Mahfud Shidiq mengeluarkan maklumat yang ditanda tangani oleh KH Hasyim Asyari. 

Maklumat ini berisi intruksi kepada seluruh cabang NU di tanah air agar mengadakan isra miraj dan menggalang dana untuk Palestina serentak pada 27 rajab. 

Akibat maklumat ini, beliau dipanggil oleh Belanda dan diminta untuk mencabut maklumat tersebut. 

Namun KH Mahfud Shidiq tetap melaksanakan maklumat tersebut. 

Keberanian KH Mahfud Shidiq dalam mengeluarkan maklumat ini dipuji dan diapresiasi oleh KH Hasyim Asyari ketika Muktamar ke 14 di Magelang.

KH Mahfud Shidiq adalah Ketua PBNU yang sangat dikagumi oleh Gus Dur. 

Hingga Gus Dur pernah menyampaikan "tidak ada tokoh yang saya kagumi selain KH Mahfud Shidiq". 

Tak hanya itu kakeknya, KH. Hasyim Asyari menangis tersedu-sedu ketika tahu KH Mahfudz Shidiq meninggal dunia. 

KH Mahfudz Shidiq meninggal dunia dalam usia 38 tahun pada 21 Desember 1944.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top