Tak Terdampak Kekeringan, Tahun 2019 Jawa Timur Surplus Padi

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo.(Ist)
Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo.(Ist)

SIDOARJOTIMES, BLITAR – Meski musim kemarau terjadi di Jawa Timur (Jatim) belakangan ini, ternyata tidak berdampak signifikan terhadap produksi tanaman padi. Jatim tetap surplus padi hingga akhir tahun 2019, karena luasan lahan padi yang terdampak kekeringan kecil sekali.

“Sampai akhir tahun surplus padi sekitar 2,3 juta ton. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir masalah produksi padi di Jatim pada musim kemarau ini,” kata Kepala Dinas (Kadis) Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo, Rabu (10/7/2019).

Berdasarkan Data Dinas Pertanian Jatim, luas tanaman padi yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau sebanyak 24.633 hektar dari luas tanaman padi baik Musim Hujan (MH) dan Musim Kemarau (MK) 1,8 juta hektar di Jatim. Luas padi yang kena puso 983 ha.

“Jadi, kalau diprosentasekan, maka padi yang terkena kekeringan hanya 1,32 persen. Sedangkan yang kena puso 0,05 persen. Karena itu, dampak terhadap produksi padi di Jatim sekali lagi tidak signifikan,” tegasnya.

Luas tanaman padi yang mengalami kekeringan itu, terjadi di 16 kabupaten/ kota. Terbanyak di Kabupaten Bojonegoro, yakni 11.016,8 ha. Disusul Kabupaten Lamongan 6.806,6 ha, Kabuupdate Ngawi 1.784 ha, Kabupaten Pacitan 1.139,5 ha dan beberapa daerah lainnya. Daerah yang terkecil mengalami kekeringan, adalah Kota Madiun seluas 0,14 ha.

Untuk tanaman jagung, masih berdasar data Dinas Pertanian Jatim, dari total luas tanam jagung baik jenis MH dan MK sebanyak 946.844 ha, yang terkena kekeringan 649 ha. Sedangkan yang kena puso seluas 99 ha.

“Kalau diprosentasekan, maka jagung yang mengalami kekeringan hanya 0,07 persen dan yang kena puso 0,01 persen,” jelasnya.

Tanaman kedelai juga tak berdampak signifikan pada musim kemarau tahun ini. Dari luas tanam kedelai baik MH dan MK di Jatim sebesar 44.671 ha, yang terkena kekeringan 236 ha dan puso tidak ada.

“Kalau diprosentasekan cuma 0,53 persen. Pusonya tidak ada,” tandasnya.

Jauh hari, Dinas Pertanian sudah mengantisipasi musim kemarau. April lalu, Dinas Pertanian sudah mengirim surat kepada dinas pertanian kabupaten untuk mengantisipasi musim kekeringan. Selain itu, mempersiapkan penggunaan varietas yang tahan kering dan memastikan fungsi sarana dan prasarana pertanian dan irigasi dengan baik.

“Misalnya embung, bendungan dan lain-lain. Kita kerja sama dengan Dinas Sumber Daya Air. Diharapkan daerah-daerah yang kena dampak puso, kalau dirasakan perlu bantuan ke provinsi segera mengirim surat ke Pemprov. Kita akan memberikan cadangan pangan dari pemerintah, bisa berupa beras dan benih, sesuai yang dibutuhkan,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top