Awali Kirab Hambangun Praja, Pemkab Blitar Gelar Pertunjukan Wayang Kulit

Bupati Blitar membuka pagelatan wayang kulit semalam suntuk di Penataran.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Bupati Blitar membuka pagelatan wayang kulit semalam suntuk di Penataran.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

SIDOARJOTIMES, BLITAR – Masih dalam suasana Hari Jadi Blitar ke 695, Pemkab Blitar melaksanakan pagelaran kesenian wayang kulit dalam rangka memeriahkan Kirab Hurub Hambangun Praja di kiblat lor, di Kawasan Wisata Penataran Kecamatan Nglegok, Jum’at (12/07/2019) malam. 

Pagelaran tersebut merupakan awal rangkaian acara Kirab Hurub Hambangun Praja yang dilaksanakan mulai hari ini hingga pada 5 Agustus mendatang.

Turut hadir dalam acara tersebut Bupati Blitar Rijanto, Sekda Pemkab Blitar Totok Subihandono, jajaran Forkopimda Blutar, Plt Wali Kota Blitar Santoso, Wali kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo, Sekda Solo Ahyani beserta jajaranya dan tamu undangan lainnya.

Pagelaran Kesenian wayang kulit tersebut menghadirkan Dalang kondang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta. 

Adapun gelaran wayang itu membawakan lakon Narasoma Setyawati dengan bintang tamu Elisha Orcarus Allaso.

Bupati Blitar Rijanto menjelaskan sejumlah acara telah dilaksanakan mulai Festival Panji Penataran, Pagelaran Ludruk Blitaran, Kirab Hambangun Praja 2019 kali ini mengambil tema 'Kiblat Papat Limo Pancer' dan pada setiap kiblat akan diadakan hiburan seperti pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Penataran kali ini bersama Dalang kondang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta.

Dalam kesempatannya Bupati menceritakan, Pisoanan Agung berpakain layaknya pakaian ala kerajaan dan peserta  upacara mengenakan pakaian tradisional ala adat Jawa. 

Upacara Bedol Pusoko dan Kirab Hambangun Praja dengan penyerahan pusaka-pusaka Kabupaten Blitar yang berupa Kitab Sejarah Kabupaten Blitar, Panji Lambang daerah Kabupaten Blitar dan juga Damar Hurub Hambangun Praja

“Kiblat Papat Limo Pancer tersebut yaitu Pendopo Ronggo Hadinegoro sebagai pancer atau pusat dari Kabupaten Blitar. Kemudian pusaka akan di kirap menuju, Kiblat Lor akan diadakan Pagelaran Wayang Kulit,  Kiblat Kulon yaitu petilasan prasasti Padelegan Desa Pikatan, Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. Setelah itu dilanjutkan menuju kiblat kidul yaitu Candi Simping Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar," terang Bupati Rijanto

Pusaka Kabupaten Blitar tersebut diserahkan kepada Sekertaris Daerah Kabupaten Blitar Totok Subihandono lalu diserahkan kepada Pisowanan Agung untuk di kirab ke Kecamatan Nglegok. 

Kirab Hambangun Praja 2019 kali ini mengambil tema Kiblat Papat Limo Pancer. 

Nantinya pusaka-pusaka Kabupaten Blitar itu akan di Kirab selama 25 hari menuju Kiblat Papat dan seluruh kecamatan di Kabupaten Blitar.

"Kemudian Kirab Hambangun Praja Dilanjutkan ke kiblat etan yaitu Prasati Munggut di Desa Babatan, Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar, Di masing-masing tujuan tersebut nantinya akan ada hiburan rakyat seperti pagelaran wayang kulit, jaranan maupun campursari. Terakhir Kirab Hambangun Praja bertolak menuju Candi Sawentar Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro lalu diarak menuju Pendopo Sasanan Adi Praja, pusat pemerintahan Kabupaten Blitar," sambung Rijanto

Bupati menambahkan Kirab Hambangun Praja diakhiri dengan kedatangan Pisowanan Agung di Pendopo Sasanana Adi Praja Kanigoro Blitar pada tanggal 5 Agustus 2019. 

Acara nanti akan ada pembacaan Kitab Serat Ambiya dengan harapan acara puncak Hari Jadi Kabupaten Blitar tersebut membawa keselamatan, keberkahan dan kemakmuran Bagi Kabupaten Blitar.

Pagelaran wayang kulit dimulai dengan ditandai Bupati Rijanto menyerahkan gunungan/kayon kepada Dalang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta, sebagai tanda mandat dimulainya pagelaran wayang kulit.

Kisah Pewayangan ini menceritakan Dewi Setyawati anak seorang pendeta raksasa bernama Begawan Bagaspati. 

Sebelum bernama Setyawati ia bernama Pujawati. Karena dewi ini berasal dari pemujaan sang Begawan. 

Dewi Pujawati diperistri Raden Narasoma yang kemudian menjadi raja di Mandraka.

Akan tetapi Narasoma merasa malu mempunyai mertua seorang raksasa. Setelah Pujawati mengatakan hal itu pada ramandanya. 

Sang Begawan dengan rela meyerahkan nyawanya pada Narasoma. 

Dan sang begawan meninggalkan ilmunya Candrabirawa kepada Narasoma. 

Ia berpesan pada perang Baratayudha, Narasoma akan mendapat balasan dari seorang yang berdarah putih suci yaitu Yudistira.(kmf)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top