Gejet, Cikal Bakal Islam di Kromengan, Disebarkan Cucu Sunan Ampel

Dari Dusun Gejet, Kromengan, agama Islam tersebar ke berbagai wilayah oleh Syaikh Raden Kenduruhan (Nana)
Dari Dusun Gejet, Kromengan, agama Islam tersebar ke berbagai wilayah oleh Syaikh Raden Kenduruhan (Nana)

SIDOARJOTIMES, MALANG – Gejet, nama sebuah dukuh yang kini dikenal sebagai Dusun Ringinanom, Desa Kromengan, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, ternyata menyimpan sejarah perkembangan agama Islam yang terbilang panjang. Khususnya di wilayah Kecamatan Kromengan dan sekitarnya.

Bahkan, penyebar agama Islam di wilayah Kromengan pun bukanlah sosok sembarangan. Konon, menurut berbagai cerita lisan para tetua dan tokoh masyarakat Dusun Ringinanom, penyebar agama Islam di wilayah itu adalah cucu Sunan Ampel yang bernama Syaikh Raden Kenduruhan.

Syaikh Raden Kenduruhan merupakan anak Raden Patah, yaitu raja Islam pertama Jawa (1478-1518 M), dengan ibu bernama Dewi Murtasimah atau Asyiqah. Asyiqah ini adalah anak Raden Rahmad atau terkenal dengan sebutan Sunan Ampel yang menikah dengan Dewi Karimah.

"Beliaulah yang menyebarkan Islam di sini dan sekitarnya. Sehingga sampai saat ini Gejet ini memiliki banyak alim ulama. Sedangkan keturunan lainnya menyebar ke berbagai wilayah lainnya dan juga menjadi para penyebar Islam," kata Imam Hanafi yang ditunjuk sebagai pengelola makam keramat suci Syaikh Raden Kenduruhan, Minggu (14/07/2019) kepada MalangTIMES.

Jejak Syaikh Raden Kenduruhan dalam menyebarkan agama Islam pun masih terlihat sampai saat ini. Gejet menjadi salah satu dusun yang menjadi jujugan warga untuk menimba ilmu agama. Pun,  kehidupan religi warganya masih kental.

Hal lainnya adalah, banyak warga luar daerah yang datang untuk berzairah ke makam Syaikh Raden Kenduruhan. Padahal, warga Gejet khususnya tidak pernah memublikasikannya.
"Kita memang tidak pernah memublikasikan keberadaan makam Raden Kenduruhan dulunya. Tapi, memang banyak warga luar daerah yang datang ke sini. Kita juga kadang tidak tahu informasinya dari mana," ujar Imam.

Lepas dari hal itu, Gejet sebagai pedukuhan yang dibuka oleh Raden Kenduruhan telah menjadi sentra agama Islam menyebar di Kromengan sampai wilayah sekitarnya. Bahkan, sampai saat ini, jamaah di Dusun Ringinanom, baik di pondok pesantren yang ada maupun di wilayah rukun tetangga dan rukun warga, memiliki salawat Kenduruhan sebagai bagian dari jejak keberadaan Syaikh Raden Kenduruhan.

"Itu bukti keberadaan beliau di dusun Ini. Bahkan  sampai sekarang dukuh kami adalah dukuh Islami yang paling kental dibanding dukuh lainnya,”ujar Munif Wasiso, warga sekitar.

Berbagai jejak yang diwariskan oleh Raden Kenduruhan inilah yang sampai saat ini dirawat oleh warga Dukuh serta didorong penuh oleh pemerintah desa Kromengan dengan berbagai kegiatan islami sampai pembangunan infrastruktur di areal pemakaman.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]sidoarjotimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]sidoarjotimes.com | marketing[at]sidoarjotimes.com
Top