Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal didampingi kutua MUI KH Nizar saat acara Deklarasi Kamtibmas (Agus Salam/Jatim TIMES)

Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal didampingi kutua MUI KH Nizar saat acara Deklarasi Kamtibmas (Agus Salam/Jatim TIMES)



Polres Probolingg Kota meminta, Cafe dan tempat hiburan seperti karaoke, tutup, utamanya disaat masyarakat menjalankan ibadah puasa. Mengingat, dua tempat tersebut menjadi tempat berawalnya sebuah kejahatan dan tindak kriminal lainnya. Karena  disanalah para pelaku minum-minuman keras dan narkoba.

Hal tersebut ditegaskan Kapolresta AKBP Alfian Nurrizal, Senin (14/5) sekitar pukul 11.00 saat bertemu sejumlah Forpimda, FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama), MUI serta pelaku usaha, termasuk pengusaha tempat hiburan malam. Acara Deklarasi dan Himbauan kamtibmas yang berlangsung di ruang Rupatama Sanika Satyawadana tersebut, juga dihadiri Kodim 0820.

Dalam sambutannya, Alfian meminta tempat hiburan malam seperti Pop City dan 888 (Triple Eight) yang beroperasi di wilayahnya, tutup hingga usai lebaran. Permintaan itu dilontarkan, agar tindak kejahatan dan tindak kriminal lainnya, berkurang. Selain itu untuk menghormati bulan puasa ramadlan.

“Karena dari tempat hiburan, tindak kejahatan berawal. Kami minta untuk ditutup,” pintanya, yang diangguki perwakilan menejemen Pop City dan 888 yang menyempatkan diri hadir diacara tersegbut.

Dalam kesempatan itu, kapolresta juga meminta masyarakat untuk memperketat penjagaan di lingkungan masing-masing. Karena seperti biasanya, saat bulan puasa, terutama menjelang lebaran angka kejahatan naik, dibanding bulan biasa. Pemicunya adalah banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi. Jalan pintasnya, pelaku tindak kriminal akan menempuh jalan melanggar hukum untuk mencukupi kebutuhannya.

“Dengan penjagaan, ruang gerak pelaku menyempit. Mereka akan berfikir panjang, kalau diwilayah yang menjadi incarannya, ketat penjagaannya,” tandasnya.

Sementara itu, ketua MUI KH Nizar meminta Satpol PP dan Polisi untuk lebih giat melakukan operasi di cafe, warung remang-reman dan tempat-tempat yang dijadikan pesta miras dan pacaran oleh remaja. Jika petugas sering malakukan razia, ia yakin, masyarakat yang hendak berbuat melanggar agama, akan berkurang.

“Kalau dibiarkan, mereka lebih leluasa. Makanya kami mohon gencarkan razia,” pintanya.

Ditambahkan, Satpopol PP dan petugas polresta tidak perlu khawatir operasi yang dilakukan. Pihaknya atas nama MUI akan bersurat kepada wali kota dan Polresta, untuk meminta melakukan penertiban, bahkan merazia warung yang diduga menjual miras. Atas dasar itulah, nantinya pemkot dan polresta, bergerak.

“Ini surat sudah jadi. Tinggal diluncurkan ke wali kota dan Polresta,” ujarnya seraya menunjukkan suratnya.

Sedang DR Abdul Halim, ketua FKUB berharap toleransi antar umat beragama ditingkatkan. Sebab, menurut Lemhanas, angka toleransi di Indonesia berada diangka satu dan tulisannya berwarna merah. Dengan toleransi yang tinggi, kita tidak mudah dipecah-belah dengan aksi teror bom sekalipun.

“Angka toleransi menkhawatirkan. Makanya kami minta untuk ditingkatkan. Kalau tetap dizone merah, kita mudah diprovokasi.,” katanya singkat.


End of content

No more pages to load