Jasad korban saat dievakuasi dari rumah korban menuju kamar mayat RSUD dr Muhammad Saleh Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)

Jasad korban saat dievakuasi dari rumah korban menuju kamar mayat RSUD dr Muhammad Saleh Kota Probolinggo (Agus Salam/Jatim TIMES)


Pewarta

Agus Salam

Editor

A Yahya


Setelah dilakukan autopsi dan pengumpulan keterangan sejumlah saksi, Polres Probolinggo Kota menyimpulkan, Endang Sukeni (59) meninggal karena penyakit, bukan dianiaya hingga tewas seperti kabar sebelumnya. 

Kesimpulan tersebut diungkap Kasat Reskrim AKP Nanang Fendi Susanto, Selasa (18/6) sekitar pukul 10.30 di mapolresta. Dijelaskan, korban meninggal karena penyakit dalam yang diderita yakni, penyakit jantung. Mengenai darah yang keluar dari hidung, bisa saja darah yang menggumpal di kepala korban keluar.

Hal tersebut berdasarkan autopsi yang dilakukan tim forensik Polda Jatim semalam di RSUD dr Muhammad Saleh. Disebutkan, dokter forensik tidak menemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban, akibat penganiayaan. "Kesimmpulan sementara korban tewas akibat penyakit dalam. Bukan karena dianiaya," tandas Kasat Reskrim.

Terkait darah yang keluar dari hidung korban AKP Nanang mengatakan, bukan karena kekerasan. Tetapi darah yang menggumpal di kepala korban keluar beberapa saat setelah korban menghembuskan nafas terakhirnya. Selain berdasarkan hasil autopsi, keterangan sejumlah saksi juga menguatkan korban meninggal dunia, bukan dianiaya.

"Keterangan saksi keluarga dan saksi di lokasi kejadian menjelaskan seperti itu. Tidak ada yang mengarah ke pembunuhan. Termasuk keterangan suami siri korban yang berinisial AGS," tandas Kasat Reskrim ke sejumlah wartawan.

Saat ditanya, mengapa saat kejadian AGS tidak sedang berada di rumah korban. Kasat mengatakan, meski AGS berstatus suami siri korban, ia tidak tinggal serumah dengan Endang. Hanya saja, AKP Nanang tidak menjelaskan, dimana AGS tinggal. "AGS jarang tinggal serumah dengan korban. Enggak tahu setiap harinya tinggal di mana. Yang jelas, saat kejadian AGS tidak ada di rumah istri sirinya," tegasnya.

Mengenai, tas yang berisi sejumlah uang dan sebuah handphone yang dikabarkan hilang, Kasat mengaku, belum mengetahui. Pihaknya masih mencari tahu dan menyelidiki, apakah tas yang dimaksud hilang benaran, atau tidak. Mengingat, HP korban yang berada di dalam tas, belum bisa terdeteksi. “Kita belum tahu, apa hilang beneran atau tidak. Masih kita cari. Memang kabar yang kami dapatkan, tas korban hilang,” tambahnya.

Terkait informasi yang menyebut, terduga pelaku telah diamankan di mapolresta semalam. AKP Nanang membantah. Menurutnya, tidak ada seorangpun yang diamankan terkait meninggalnya guru BK (Bimbingan dan Konseling SMAN 1 Leces tersebut. “Tidak benar kabar itu. Kami tidak pernah mengamankan seseorang, termasuk suami sirinya. AGS diamankan untuk dimintai keterangan. Hanya sebatas itu,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Endang Sukeni yang tinggal di jalan Anggur, RT 1 RW 1, Kelurahan Wonoasih, Kecamatan Wonoasih, kota setempat ditemukan meninggal di kamarnya, Senin (17/6) sekitar pukul 09.30. Menurut keterangan Kapolsek Wonoasih Kompol Sukatno, perempuan yang memiliki 2 anak ini meninggal tidak wajar. Karenanya ia mengatakan, korban tewas diduga dianiaya oleh seseorang.

Mengingat, keluar darah dari hidung korban, sedang di lehernya ada bekas seperti cekikan serta lebam di wajahnya. Sehingga kondisi korban yang seperti itu, kapolsek menyebut, kalau korban yang hendak menghadiri sekaligus mengantar ketupat dan lontong ke sekolahannya tersebut, dianiaya. Belum diketahui, siapa palaku penganiayaan, sebab, Senin pagi itu, situasi rumah korban sepi. Anak dan menantunya, mengajar dan meninggalkan rumah sekitar pukul 06.50. Sementara putri keduanua tinggal di Malang ikut suaminya. 


End of content

No more pages to load