Buk Ndin saat menyedu kopi untuk pengunjung. (Foto: Indra Seriawan/BondowosoTIMES)

Buk Ndin saat menyedu kopi untuk pengunjung. (Foto: Indra Seriawan/BondowosoTIMES)



Ada yang menarik ketika melewati Jalan Raya Wringin yang merupakan arah keluar dari Kabupaten Bondowoso. Tepatnya di Desa Wringin masuk Gang Tape ke arah barat. Di situ terdapat kedai kopi yang sangat sederhana namun masyhur kopinya.

Orang-orang menyebutnya kopi Buk Ndin. Uniknya, bukan penjual yang memasang harga, melainkan konsumen yang menentukan tarif.

Awalnya, harga kopi tersebut cuma 500 perak. Namun, oleh pelanggan, harganya  dinaikkan menjadi 2.000 rupiah. Pasalnya, kopi tersebut begitu nikmat tatkala diseruput dan tak kalah mutu dengan racikan kopi para barista.

"Bukan saya yang menaikkan harga, tapi orang-orang kasihan dengan saya karena jualan kopi cuma 500 perak dulunya. Terutama Pak Kades. Padahal saya kasihan sama kuli-kuli dan petani yang keberatan kalo dinaikkan harga," ujar Buk Ndin kepada  BondowosoTIMES.

Wanita berusia 62 tahun ini menceritakan awal mula berjualan kopi. Dulu dia hanyalah kuli batu sambil nyambi jualan tape. Karena banyak kuli yang ingin ngopi dan makan nasi bungkus, maka Buk Ndin mencoba menyediakan dua menu tersebut.

Karena banyak permintaan, Buk Ndin mendirikan kedai kopi dengan bangunan ala kadarnya yang terbuat dari kayu dan bambu. Peralatannya pun sederhana. Hanya tungku api, ceret dan lusinan gelas yang didapatnya dari sumbangan salah satu pejabat DPRD Bondowoso.

Namun yang istimewa adalah racikannya. Sejak fajar sebelum menyingsing, Buk Ndin sudah mempersiapkan tungku api dengan kayu bakar guna memanaskan air. Tungku api dan kayu bakar tersebut tidak padam hingga kisaran pukul 22.00 WIB setiap harinya.

"Air yang mendidih adalah kunci dari pembuatan kopi yang enak. Makanya api tidak pernah saya matikan kecuali saya sudah mau tutup. Lalu gula ditaruh ke dalam gelas terlebih dahulu. Baru ditindih kopi di atasnya agar kopi matang dan tercium aromanya saat disirami air panas," kata Buk Ndin.

Ketika ditanya bahan kopi pilihannya, ternyata hanya kopi pasar seharga 30 ribu per kilogramnya. "Namun Buk Ndin memiliki teknik tersendiri dalam menyangrai kopi," tutur salah seorang pengunjung yang berprofesi sebagai pendamping lokal desa (PLD) bernama Ubaidillah.

"Itulah yang membuat kopi Buk Ndin sekalipun terbuat dari bahan kopi lokal namun cita rasanya tidak kalah dengan kopi-kopi adonan barista. Serasa ada karamelnya," imbuhnya yang diakui oleh banyak pengunjung lain.

Ubai mengaku menjadi pelanggan tetap buk ndin, karena berbeda buatan Buk Ndin dengan orang lain. "Bahkan anehnya, sekalipun dengan bahan yang sama, kalo yang menyedu bukan Buk Ndin, rasanya akan berbeda", tambahnya.

Oleh karena itu, Ubai berani merekomendasikan kopi Buk Ndin ini kepada teman-temannya yang barista ketika ingin bereksperimen dan mempelajari kopi ala Buk Ndin ini. Sampai-sampai pernah ada beberapa turis yang juga mampir ingin menjajal racikan kopi Buk Ndin. Salah satunya bernama Consu yang berprofesi sebagai guru bahasa Inggris berkebangsaan italia.

Itulah kopi Buk Ndin. Dengan pelanggan 50 hingga 100 orang setiap hari, tak ayal ratusan gelas kopi yang harus disedu tanpa lelah antre. Padahal tempatnya tidak muat sehingga harus meminjam teras-teras rumah tetangga di sebelah kedai.

Pukul 09 pagi, sore hari dan ba'da magrib adalah saat ramai pengunjung silih berganti mulai dari kuli sampai pejabat tinggi untuk menghabiskan segelas dua gelas kopi.
 


End of content

No more pages to load