Goa Jedog di Desa Plosorejo Kab Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Goa Jedog di Desa Plosorejo Kab Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Goa Jedog merupakan sebuah gua alam yang di dalamnya penuh dengan stalagmit dan stalaktit. Goa yang menyajikan keelokan nan menakjubkan ini terletak di lereng pegunungan kapur tepatnya di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Goa yang berbentuk menyerupai sumur berukuran besar ini cukup menawarkan pemandangan yang mempesona. Nuansa alami nampak dari depan mulut goa yang ditumbuhi pohon beringin berukuran sedang dan menjulang hingga keluar pintu masuk goa.

Meski menawarkan pemandangan yang cukup mempesona, destinasi wisata alam di Blitar selatan ini tidak terlalu ramai dikunjungi wisatawan. Goa ini sering dikunjungi oleh masyarakat sekitar sebagai tempat untuk bersantai dan menikmati suasana alam.

Bagi banyak orang, Goa Jedog mungkin sudah erat sebagai tempat wisata alam dan mencari kesejukan. Namun siapa sangka, tempat ini juga menyimpan cerita dan sejarah pertapaan Syekh Belabelu, salah satu trah keturunan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit.

Syekh Belabelu mempunyai nama kecil Raden Jaka Bandem. Pada awalnya Syekh Belabelu atau Raden Jaka Bandem bukan pemeluk agama Islam. Semasa hidupnya beliau banyak menghabiskan waktu untuk berkelana menyusuri wilayah selatan jawa dari timur ke barat hingga perbukitan Parangtritis.

Pengelola Goa Jedog, Katmiran mengatakan, menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, sebelum menetap di perbukitan Parangtritis, Syekh Belabelu pernah mendiami Goa Jedog di Plosorejo, Blitar. Konon beliau menetap di Goa Jedog bukan tanpa alasan, sebab tak jauh dari situ terdapat makam leluhurnya yakni Raden Wijaya yang didharmakan di Candi Simping di Desa Sumberjati.

"Ceritanya mbah-mbah sini, dulunya Goa Jedog adalah pertapaan Syekh Belabelu. Beliau adalah salah satu keturunan bangsawan Majapahit yang konon ditugaskan untuk menjaga pendharmaan leluhurnya yakni Raden Wijaya yang didharmakan di Candi Simping Desa Sumberjati," ungkap Katmiran saat ditemui BLITARTIMES, Kamis (5/12/2019).

Cerita tutur yang menjelaskan keberadaan Syekh Belabelu tersebut juga diperkuat dengan banyaknya temuan struktur batu andesit dan batu bata merah berukuran besar yang tercecer di pintu masuk goa. Jika dilihat dari ukurannya, struktur batu bata merah tersebut mirip dengan ukuran batu bata yang dibuat pada masa kerajaan Majapahit.

"Selain temuan batu bata di depan tersebut di dalam goa ada batu berbentuk kubus mirip tempat untuk mewarangi keris dan beberapa pecahan gerabah yang sudah ada sejak dulu. Selain itu, dulunya menurut para sesepuh dulu di depan juga ada batu yang diukir mirip bentuk candi Brawijaya namun ukurannya kecil," sambung Katmiran.

Menurut Katmiran, Goa Jedog yang dulu dan sekarang sudah jauh berbeda. Dulu untuk menjangkau puncak Bukit Pertapaan, harus berjibaku dengan jalanan terjal dan licin. Namun sekarang dia bersama sejumlah warga yang tergabung dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) mulai membangun akses jalan tangga menuju goa dan beberapa Gasebo kecil di depan mulut goa.

"Sedikit demi sedikit kami berupaya sebaik mungkin untuk menjaga dan menjadikan wisata ini sebagai salah satu tujuan utama wisata budaya yang ada di Blitar. Selain kami melihat adanya potensi wisata alam, goa ini juga menyimpan tinggalan-tinggalan bersejarah,” ucapnya.

Dari pantuan BLITARTIMES memang jalan menuju bukit sudah diperbaiki dan di sepanjang track telah ada potensi wisata yang nantinya bisa dikelola oleh warga. Meski belum sepenuhnya dikelola menjadi tempat wisata akan tetapi goa ini memang menawarkan pemandangan wisata alam yang cukup menarik untuk dikunjungi.

"Kini kami membuat gasebo-gasebo kayu agar menarik minat para wisatawan untuk sekedar bersantai menikmati suasana alam. Gasebo ini dibuat selain untuk menarik minat para wisatawan juga bisa dimanfaatkan untuk melepas penat sesat sambil menikmati indahnya pegunungan sekitar," tukasnya.

Goa Jedog terletak di sebelah selatan Kota Blitar atau tepatnya 10 Km dari pusat kota Blitar. Dengan kawasan wisata alam dan suasana pedesaaan, tempat ini menawarkan konsep wisata budaya dengan keramahan masyarakat desa khas di Kabupaten Blitar.

Sekelumit kisah yang mengiringi keberadaan wisata alam ini disinyalir bahwa Syekh Belabelu pernah menetap di Goa Jedog setelah Majapahit mengalami keruntuhan akibat serangan Patih Udara atas perintah Raja Grindrawardhani yang bermaksa di Kediri. Sedangkan Raja Brawijaya V dan sejumlah pengikutnya menyingkir ke selatan dan pernah menetap di goa tersebut.

Selanjutnya, Syekh Belabelu berjalan ke barat hingga sampai dan menetap di wilayah perbukitan Parangtritis. Menurut sejarah, Syekh Belabelu tidak sendirian, beliau ditemani oleh saudaranya yang bernama Syekh Damiaking.

Mereka berdua masuk agama Islam mengikuti jejak gurunya, yaitu Panembahan Selohening yang telah masuk Islam terlebih dahulu setelah beliau kalah dalam berdebat dan beradu ilmu dengan Syekh Maulana Magribi di Pantai Parangtritis.

Setelah masuk Islam, Syekh Belabelu menyebarkan agama Islam di daerah Pantai Selatan yang dulunya banyak dihuni gerombolan jin penganut Ratu Kidul yang bersemayam di Pantai Parangtritis. Beliau berdakwah bersama Syekh Maulana Magribi yang bertempat tinggal di bukit Parangtritis. Hingga akhir hayatnya beliau tinggal dan disemayamkan di sekitar bukit tersebut.(*)