pelaku nando saat memperagakan adegan membuang senapanyang digunakan untuk membunuh korban ke kebun di belakang rumah korban. (foto : Joko Pramono/jatim Times)
pelaku nando saat memperagakan adegan membuang senapanyang digunakan untuk membunuh korban ke kebun di belakang rumah korban. (foto : Joko Pramono/jatim Times)

Dalam rekonstruksi pembunuhan pasutri Didik dan Suprihatin yang dilakukan Senin, (9/12/19), terungkap pelaku sempat kembali ke rumah korban, sehari setelah melakukan pembunuhan. Pelaku Deni Yonatan Fernando Irawan (25) alias nando kembali untuk mengambil senjata yang digunakan untuk membunuh korban.

“(Senjata) Sempat dibuang dan esoknya diambil lagi,” ujar Kapolres Tulungagng, AKBP E.G Pandia selepas jalanya rekonstruksi.

Senjata yang dimaksud ialah senapan angin. Pelaku membuang senapan itu di kebun tembakau yang berada di belakang korban. Senjata itu digunakan oleh pelaku untuk memukul kepala korban, hingga pijeranya tertinggal di kepala korban.

Senapan yang telah diambil oleh pelaku itu selanjutnya dibawa pelaku ke Kalimantan. Hingga saat ini senapan yang dimaskud masih eradaq di Kalimantan.

Disinggung adanya kemungkinan pembunuhan yang dilakukan telah direncanakan sebelumnya oleh pelaku lantaran mebawa senapan angin saat kerumah korban. Dari hasil rekonstruksi Kapolres mengatakan jika aksi itu dilakukan secara spontan, lantaran pelaku tersinggung dengan perkataan korban, Suprihatin.

“Enggak, memang pelaku hobi berburu, dan saat itu mau berburu,” ujar Kapolres lebih lanjut.

Dalam rekonstruksi ini dilakukan sekitar 70 adegan. Aksi pembunuhan mulai dilakukan pada adegan ke 15.

Sementara itu Jaksa dari Kejaksaan Negeri Tulungagung yang juga mengikuti jalanya rekonstruksi, Anik Partini ungkapkan jika pembunuhan ini dilakukan atas dasar spontanitas, lantaran pelaku memukul korban selain dengan senapan angin juga kayu yang diambil dari belakang rumah korban.

“Saya lihat spontanitas karena senjata yang digunakan diambil di sini (rumah korban),” ujar Anik.

Jalanya rekonstruksi sempat ricuh lantaran keluarga korban hendak memukul pelaku. Namun aksi itu berhasil dihadang oleh petugas kepolisian yang berjaga di lokasi.

Akibat perbuataya pelaku dijerat dengan pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.

Sementara itu anak korban, Dedi Mawar Pranata (29) tidak sependapat dengan polisi yang menganggap pembunuhan dilakukan karena spontanitas. Dia menduga pembunuhan kedua orang tuanya sudah direncanakan sebelumnya.

"Saya menduga sudah direncanakan, karena mereka membawa senjata," ujar Dedi.

Dedi juga tidak menduga pelaku merupakan orang di sekitar rumahnya. Jarak antara rumahnya dan pelaku hanya berjarak sekitar 200 meter.

Dedi juga mengaku sudah pernah bertemu dengan pelaku, namun tidak menyangka keduanya tega menghabisi nyawa kedua orang tuanya dengan kejam hanya gara-gara STNK.

Semasa hidup, kedua orangtuanya tidak pernah bercerita padanya jika punya masalah dengan pelaku lantaran dirinya kerja diluar kota dan pulang seminggu sekali.

"Saya pulangnya Sabtu dan Minggu," uja Dedi.

Dedi tahu kedua pelaku pembunuhan setelah pihak kepolisian menangkap kedua pelaku setelah hampir setahun buron.

Seperti diberitakan sebelumnya, Polisi akhirnya berhasil mengungkap pembunuhan suami istri Didik dan Suprihatin di Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Selasa (29/10/19) lalu. Kejadian pembunuhan ini terjadi 8 November 2018 lalu. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap dua tersangka, pembunuhan itu dilatarbelakangi masalah jasa heregistrasi STNK.

Kedua tersangka adalah pemuda yang sudah dikenal baik oleh korban. Mereka ialah Deni Yonatan Fernando Irawan (25) dan Muhammad Rizal Saputra (22). Keduanya juga berasal dari Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat.

Nando -panggilan Deni Yonatan Fernando- sebelumnya meminta tolong kepada Didik yang membuka jasa kepengurusan STNK untuk mengurus STNK-nya. Namun setahun berselang, STNK yang dijanjikan tak kunjung selesai. Padahal, Nando sudah menyerahkan uang sebesar Rp 600.000 kepada Didik untuk mengurus STNK itu.

Setelah melakukan pembunuhan terhadap kedua suami istri itu,  Rizal maupun Nando kabur ke Kalimantan untuk menghindari proses hukum. Keduanya diamankan dari perkebunan sawit di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Dalam kejadian ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa hiasan marmer untuk membunuh Suprihatin, karpet berlumur darah, besi yang menancap di kepala Didik dan beberapa pakaian.