Jembatan darurat dari bambu yang dibangun untuk menggantikan ambrolnya jembatan bernilai sekitar Rp 500 juta di wilayah Dau. (Ist)
Jembatan darurat dari bambu yang dibangun untuk menggantikan ambrolnya jembatan bernilai sekitar Rp 500 juta di wilayah Dau. (Ist)

Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada anggaran, jembatan darurat dari bahan baku bambu pun jadi. 

Mungkin begitulah kondisi yang dialami warga di dua desa yang aktivitasnya tergantung pada jembatan di Dusun  Krajan, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, yang ambrol akhir Januari 2020.

Peribahasa itu pula yang dimungkinkan dipakai terlebih dahulu oleh Pemerintah Kabupaten Malang dalam memberikan akses transportasi warganya. Walau bersifat darurat dengan bahan baku jembatan dari bambu selebar sekitar satu meter, jembatan darurat itu masih bisa dilalui warga dengan kendaraan roda dua.

Namun, tentunya di musim penghujan ini, diperlukan keberanian tinggi bagi warga yang melintasinya. Terutama dengan bawaan di kendaraan roda dua yang bila berpapasan, salah satunya harus mengalah dulu.

Ditopang dengan beberapa bambu yang ditancapkan di tanah, redaksi darurat  menemukan bentuknya di jembatan yang sebelumnya hanya berusia sekitar dua bulan setelah selesai pengerjaan oleh CV Wahyu Sarana dengan nilai kontrak Rp  Rp 486.914.496,08 dari pagu Rp 700 juta itu.

"Lewat jembatan bambu ini, takut. Apalagi pas bawa jeruk dan sedang hujan. Gak berani saya lewat, Mas," ungkap Shodikin (39), warga Desa Selorejo yang berprofesi sebagai pengantar jeruk.

Ketakutan Shodikin tentunya beralasan. Dengan beban jeruk yang dibawanya hingga 60 kilogram (kg) sekali antar dengan kendaraan roda dua dan harus melewati jembatan dari bambu, ada risiko yang tinggi. Terutama pada saat hujan mengguyur. "Kalau seperti itu saya ambil arah putar walau jadi jauh. Saya lewat Tegalwaru-Sempu dibanding terjadi apa-apa," ujarnya.

Harapan besar warga pengguna jembatan yang juga menjadi jalur masuk ke wisata petik jeruk Selorejo bahwa jembatan bisa dibangun lagi dimungkinkan masih harus bersabar. Pasalnya, sampai saat ini pun Pemkab Malang tak bisa menjanjikan pembangunan ulang jembatan Dau itu dikarenakan anggaran. 

Kejadian ambrolnya jembatan di akhir Januari 2020 tak memungkinkan Pemkab Malang untuk mengalokasikannya dalam APBD 2020. Sehingga Bupati Malang Sanusi pun hanya berusaha lewat jalur perubahan anggaran dan kegiatan (PAK) yang tentunya masih beberapa bulan ke depan dilaksanakan.

Sedangkan Kepala Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang Romdhoni pun hanya berjanji untuk melihat bila ada evaluasi kegiatan yang bisa ditunda sementara dan dialihkan ke pembangunan jembatan Dau. "Kalau dari evaluasi, semua kegiatan memiliki urgenitas yang sama. Kami cari jalan alternatif lainnya," ujarnya.

Pernyataan Sanusi dan Romdhoni ini pun bisa dimaklumi dengan kebijakan keuangan pemerintah. Tapi, hal ini pun membuat warga pengguna jembatan di dua desa harus bersabar untuk melihat harapannya terwujud.

Tak hanya itu. Warga pun harus terus berpacu dengan adrenalinnya saat melintasi jembatan darurat dari bambu itu. Terutama pada saat musim hujan yang kini masih terbilang tinggi di wilayah Malang.